Sebagian besar dari kita tentunya pernah memasuki terowongan saat naik kereta api. Jika terowongan cukup panjang maka lampu-lampu di dalam kereta dinyalakan, jika cuma sejenak – maka bersiaplah kegelapan akan melingkup diri kita.
Begitu pula dalam kerohanian kita. Ada saat kita akan memasuki kegelapan. Kegelapan yang begitu pekat sehingga kita merasa ketiadaan penyertaanNya. Sesuatu yang gelap. Sesuatu yang kosong. Kegelapan dan kekosongan membuat kita sendirian seutuhnya.
Ajaibnya walau kita tahu itu cuma sejenak, kita merasa ada sesuatu yang amat bernilai mendadak hilang. Itulah mengapa dalam kegelapan dan kekosongan kita menjadi demikian gundah dan tidak nyaman. Walau kita tahu sekali lagi, ini cuma sesaat. Tapi toh tetap terasa lama.
Maka ketika kereta api yang kita naiki meluncur melewati terowongan. Jauh di dalam hati kita akan terbersit betapa berharga PribadiNya yang ada di dalam kita. Saat kita terjatuh, Ia membangkitkan diri kita. Saat kita menangis, Ia mengusap air mata kita. Saat kita kekurangan, Ia memenuhi kebutuhan kita. Ada begitu banyak tindakan yang dilakukanNya untuk diri kita. Kendati sayangnya semua itu kita ukur dengan pemenuhan kebutuhan diri sendiri. Dan bukan penempatan peranNya sebagai bagian dari keberadaan diri kita sepenuhnya.
Itulah mengapa mestinya kita meyakini dalam konteks iman bahwa saat kita terjatuh, Ia sesungguhnya telah memberitahukan kita soal lubang yang menghadang langkah. Saat kita menangis, Ia sesungguhnya telah menangis terlebih dahulu. Dan saat kita kekurangan, Ia sesungguhnya telah menyiapkan apa yang kita butuhkan. Artinya Ia adalah : Tuhan Yesus Kristus yang aktif, bukan Tuhan yang pasif yang baru bergerak jika kita berteriak minta tolong. Melainkan Ia adalah Tuhan yang aktif, Tuhan yang bekerja sekaligus berinisiatif karena memiliki tanggung jawab atas diri kita.
Dalam kegelapan dan kekosongan yang bukan cuma diri kita yang merasakan, juga dirasakan oleh banyak pribadi anak-anakNya ; adalah lebih merupakan pengalaman pribadi tempat kita belajar tentang betapa bernilai dan berharga anugerah iman yang ditanamkanNya dalam diri kita. Tuhan tidak sedang bermain-main agar diriNya dipandang penting, Tuhan dengan sungguh-sungguh menunjukan kepada kita bahwa pada hakekatnya manusia membutuhkan terang dan bukan gelap, manusia membutuhkan pemenuhan dan bukan kekosongan.