Posted by: thegreatsaviour | March 24, 2008

KEGELAPAN DAN KEKOSONGAN

Sebagian besar dari kita tentunya pernah memasuki terowongan saat naik kereta api. Jika terowongan cukup panjang maka lampu-lampu di dalam kereta dinyalakan, jika cuma sejenak – maka bersiaplah kegelapan akan melingkup diri kita.

Begitu pula dalam kerohanian kita. Ada saat kita akan memasuki kegelapan. Kegelapan yang begitu pekat sehingga kita merasa ketiadaan penyertaanNya. Sesuatu yang gelap. Sesuatu yang kosong. Kegelapan dan kekosongan membuat kita sendirian seutuhnya.

Ajaibnya walau kita tahu itu cuma sejenak, kita merasa ada sesuatu yang amat bernilai mendadak hilang. Itulah mengapa dalam kegelapan dan kekosongan kita menjadi demikian gundah dan tidak nyaman. Walau kita tahu sekali lagi, ini cuma sesaat. Tapi toh tetap terasa lama.

Maka ketika kereta api yang kita naiki meluncur melewati terowongan. Jauh di dalam hati kita akan terbersit betapa berharga PribadiNya yang ada di dalam kita. Saat kita terjatuh, Ia membangkitkan diri kita. Saat kita menangis, Ia mengusap air mata kita. Saat kita kekurangan, Ia memenuhi kebutuhan kita. Ada begitu banyak tindakan yang dilakukanNya untuk diri kita. Kendati sayangnya semua itu kita ukur dengan pemenuhan kebutuhan diri sendiri. Dan bukan penempatan peranNya sebagai bagian dari keberadaan diri kita sepenuhnya.

Itulah mengapa mestinya kita meyakini dalam konteks iman bahwa saat kita terjatuh, Ia sesungguhnya telah memberitahukan kita soal lubang yang menghadang langkah. Saat kita menangis, Ia sesungguhnya telah menangis terlebih dahulu. Dan saat kita kekurangan, Ia sesungguhnya telah menyiapkan apa yang kita butuhkan. Artinya Ia adalah : Tuhan Yesus Kristus yang aktif, bukan Tuhan yang pasif yang baru bergerak jika kita berteriak minta tolong. Melainkan Ia adalah Tuhan yang aktif, Tuhan yang bekerja sekaligus berinisiatif karena memiliki tanggung jawab atas diri kita.

Dalam kegelapan dan kekosongan yang bukan cuma diri kita yang merasakan, juga dirasakan oleh banyak pribadi anak-anakNya ; adalah lebih merupakan pengalaman pribadi tempat kita belajar tentang betapa bernilai dan berharga anugerah iman yang ditanamkanNya dalam diri kita. Tuhan tidak sedang bermain-main agar diriNya dipandang penting, Tuhan dengan sungguh-sungguh menunjukan kepada kita bahwa pada hakekatnya manusia membutuhkan terang dan bukan gelap, manusia membutuhkan pemenuhan dan bukan kekosongan. 
 

Posted by: thegreatsaviour | March 23, 2008

DIA SUDAH BANGKIT PAGI INI

Pada suatu pagi yang dingin, berkabut tipis dan suram sekian abad lalu. Titik-titik embun yang  masih menempel di sekujur helai daunan tertepis oleh langkah-langkah sekian pasang kaki yang tergesa. Inikah saat penantian akan berakhir ?  Setelah tiga hari Dia telah dibaringkan dalam sebuah makam yang tak terpakai.

Batu besar, tutup makam, yang terguling adalah pemandangan yang mengerikan. Kepekatan lubang kubur saat mentari belumlah tinggi, terlihat begitu menyeramkan. Helai kain kafan dan kain peluh penutup kepala tergeletak, membuat suasana kian mencekam. Diri kita seperti juga diri mereka saat itu berada pada titik kritis keyakinan yang melahirkan dugaan demi dugaan. Dugaan yang senantiasa mengejar dan berupaya mengikat diri kita untuk tidak sekali-kali membuat kita melampaui batas. Batas tentang wilayah yang tak tersentuh oleh ujung jemari kita dan bahkan oleh pikiran kita sekali pun. Batas yang tak pernah dilintasi oleh manusia sebelumnya pada saat itu. 

Maka sebagaimana mana tirai Bait Allah tercabik dari bawah ke atas, begitu pula pada pagi yang dingin itu ; batas yang tak tersentuh tercabik ketika malaikatNya berkata : Dia tidak ada disini. Sang malaikat sungguhlah  benar adanya bahwa Tuhan tidak pernah ada di dalam kubur. Tuhan tidak pernah mati. Tuhan tidak pernah tidur. Tuhan adalah Pribadi yang hidup abadi yang mampu dan berkuasa mengubah seluruh tatanan baku kehidupan dan penghidupan manusia.

Fenomena ini jelas tidak dikenal oleh manusia, bahkan oleh mereka sekali pun saat itu. Kendati sudah menyaksikan soal Lazarus yang dibangkitkanNya. Tapi untuk urusan pada pagi hari yang satu ini, dugaan adalah jauh lebih kuat ketimbang penerimaan logika jika Dia dapat membangkitkan orang mati, maka Dia pun dapat membangkitkan DiriNya yang mati. Tapi peristiwa salib tiga hari lalu sudah sedemikian kuat melibas dan menggerus pemikiran semacam itu. Sebab kekecewaan besar yang telah terjadi di depan mata, membuat mereka ogah buat mengalami kekecewaan berikutnya yang lebih besar lagi.

Tentunya kita bisa menduga tentang waktu antara yang mencekam, antara kubur kosong sampai kemudian Thomas mencucukan jemarinya pada tanganNya yang berlubang karena paku. Untuk hal ini Dia memiliki jawaban yang manis : berbahagialah mereka yang tidak menyaksikan tetapi percaya.

Dia sedang berbicara soal makna kepercayaan yang tak tergoyahkan oleh apa yang dapat dilihat dan dirasakan manusia. Dia berbicara soal kepercayaan tanpa syarat dan tidak tertundukan oleh apa hal apa pun juga. Maka ketika pada hari ini, Tuhan Yesus Kristus sudah bangkit. Tetaplah masih ada diantara kita yang menolak buat mempercayai hal dahsyat ini. Kita menolak dengan sejumlah argumen yang masuk akal. Tanpa kita menyadari bahwa kebangkitan dari alam maut memang tidak bisa disentuh oleh akal, melainkan lebih dari pada itu yaitu penyerahan dan penerimaan Keilahian milikNya tentang : Dia tidak ada disini.

Tapi Dia ada dalam diri kita bersama sebab Dia sudah bangkit pada suatu pagi yang dingin, berkabut tipis dan suram ; untuk menganugerahkan kehidupan kekal.  

Posted by: thegreatsaviour | March 21, 2008

AIR, PASU DAN LAP

” Yesus dari Nazaret, didera dan disalib, April – A.U.C. 784, “  demikian Pontius Pilatus mencatat dalam buku kepaniteraan pengadilan. Pilatus dipastikan dalam keadaan emosi campur aduk baik itu soal mempertahankan kekuasaannya sebagai wakil Kerajaan Romawi, mimpi sang isteri dan dialog dengan pria bernama Yesus ini. Yang membuat dirinya memilih untuk melakukan tiga hal. Yang pertama mendera Yesus. Kedua mengajukan pilihan pada massa Yahudi. Dan yang ketiga membasuh kedua tangannya dalam pasu.

Apa yang dilakukan oleh Pontius Pilatus adalah juga yang kita selalu lakukan. Kita kerap mengambil hati mayoritas dengan mengorbankan kebenaran yang membersit dalam nurani. Pengambilan hati ini kerap kali berdarah-darah. Tapi tetap hal itu kita lakukan tanpa jera. Yang kemudian membuat kita terlambat buat sadar bahwa hal semacam itu sesungguhnya tidaklah benar. Lantas untuk menutupinya, kita terdorong melakukan upaya untuk mempertahankan juga menyelamatkan diri kita dengan mengajukan dua pilihan, reperesentasi pengakuan serta penegasan pada dua kondisi yang saling bertentangan di hadapan kita. Sebab konon mayoritas selalu menang. Maka jalan pintas yang tersisa cuma satu yaitu pengalihan tanggung jawab. Maka diperlukanlah air, pasu dan lap. Pontius Pilatus pun mencuci tangan dengan disaksikan oleh ribuan pasang mata orang Yahudi.

Maka setelah dia mencatat kejadian hari ini. Pontius Pilatus menarik napasnya dalam-dalam. Dan merasa dirinya terjebak pada tempat dan waktu yang salah.  Udara Yerusalem pun lebih dingin dari biasanya, padahal saat ini adalah awal musim semi. Pontius Pilatus merasa bahwa hari ini sudah lebih dari cukup. Dia ingin rehat sejenak sambil berpikir apa yang harus dikatakannya pada sang isteri, yang pasti sudah mendengar apa yang telah terjadi. Dalam benaknya cuma ada air, pasu dan lap. Bukankah aku sudah mengatakan bahwa aku tidak bertanggung jawab atas orang ini. Untuk pertama kali dia merasa sedikit lega sebab menemukan jawaban yang dianggap tepat bagi sang isteri.  Tetapi kelegaan itu tidaklah berlangsung lama.

Ketika bumi berguncang. Langit menjadi gelap dan seluruhnya bertumbangan di kediamannya.  Kepanikan dahsyat melanda Yerusalem dan sekitarnya. Pontius Pilatus terkejut dan gemetar. Apa yang dialaminya adalah pengalaman pribadi kita sendiri. Kita terkejut dan kita menyesal bahwa kita telah melakukan kesalahan. Oleh tangan kita sendiri kita telah menikam diriNya tanpa kita sadari.

Pontius Pilatus adalah ujud dari diri kita sendiri. Kita adalah para Pontius Pilatus yang lebih memilih mengedepankan kepentingan diri kita sendiri, ketimbang memilih buat mengusung kepentinganNya. Ajaibnya Tuhan pun memaklumi sepenuhnya. Itulah mengapa Dia berkata bahwa kebenaran tidaklah perlu dibela. Kebenaran hanya dapat dimunculkan sebagai kebenaran sejati mana kala kita tidak berupaya memenjara kebenaran dengan hikmat milik kita sendiri. Tapi mutlak harus dengan hikmatNya.

Catatan   :   Waktu penyaliban yang dicatat Pontius Pilatus tersebut di atas adalah bukan yang kita kerap peringati seperti sekarang ini, sebab penanggalan tersebut telah diubah oleh Paus Gregorius Agung pada abad ke 13 karena kesalahan perhitungan yang telah dibuat sebelumnya.  Mohon maklum. Terima kasih.

Posted by: thegreatsaviour | March 21, 2008

HARI INI TUHAN SUDAH MATI

Hari ini Tuhan sudah mati di atas salib. Alam berguncang dan duka yang pekat menyelimuti alam semesta.  Bagi mereka yang mengasihi, mereka jelas merasa ditinggal dan apa yang dijanjikanNya sungguh jadi sebuah kebohongan belaka. Soal Bait Allah yang diruntuhkan dan akan dibangun dalam waktu tiga hari, soal Kerajaan Allah yang disalah-artikan buat menumbangkan penjajah Romawi dan seterusnya cuma menjadi kata-kata kosong. Minimal itu yang dirasakan mereka. Tapi toh tetap sebuah upaya, dan sekaligus perjuangan berat buat segelintir mereka yang konsisten mengasihiNya, dilakukan ; ketika jenazahNya boleh diturunkan, dirawat dan dikafani untuk dimakamkan sesuai tradisi setelah melalui rangkaian negosiasi politis dengan penguasa Romawi dan pemuka Sanhedrin.

Bagi mereka yang tidak mengasihi, urusan sudah selesai. Raja orang Yahudi itu sudah mati tepat jam tiga siang setelah meregang di atas salib selama tiga jam. Urusan sudah selesai. Sebuah akar potensial pemberontakan berhasil ditumpas. Sebuah ancaman atas kredibilitas para pemuka agama berhasil diredam. Kehidupan akan berjalan seperti biasa, kelangsungan simbiosis mutualistis di Yerusalem dapat berlangsung kembali secara normal.

Ketika Tuhan sudah mati, seperti tulisan sebuah grafiti di stasiun kereta api bawah tanah London yang  berasal dari  Friedrich Wilhelm Nietzsche (1844-1900) dalam bukunya Thus Speak Zarathustra (1883) ; adalah ekspresi penolakan purbawi manusiawi atas kekangan ilahiah agar manusia pantang dosa. Ada belenggu yang tak kelihatan dan bersifat lethal. Di satu sisi sebagai kekangan, tapi di sisi lain manusia terobsesi akan jati diri dengan seluruh keberadaannya  :  manusia ingin menjadi makhluk bebas seutuhnya. Dari sisi kedua inilah Tuhan merasa perlu untuk mematikan diriNya dihadapan manusia.

Itulah mengapa mereka yang mengasihiNya dan alam semesta menangisi kematianNya yang pedih penuh derita. Menangis karena tidak mengerti serta tidak memahami mengapa kekuasaan yang dimilikinya, yang dimanifestasikan dengan berjalan di atas air, menenangkan badai, mencelikan mata orang buta, membangkitkan orang mati dan seterusnya menjadi tak ada arti buat meloloskan diriNya sendiri dari cengkeram maut. Sampai pada satu titik berteriak : Eli, Eli lama sabachtani. Pertunjukan ketidak-berdayaan total yang jadi milik semua manusia. Karena konsep pikir analitik manusia, seyogyanya jika Dia  sungguh Tuhan tidaklah boleh dan tidak akan membiarkan diriNya mati.

Maka ketika Tuhan sudah mati. Kehidupan kembali berjalan seperti biasa. Sebagian besar dari mereka yang mengasihiNya memutuskan untuk kembali ke dalam kehidupannya masing-masing. Sebab hidup mesti berjalan. Tapi sebagian kecil dari mereka yang mengasihiNya tetap memilih untuk berdiam dalam kesetiaan  kendati bertanya-tanya apa yang masih akan terjadi. Penantian yang menyesakan. Sebuah jedah, juga sebuah pertaruhan besar untuk keyakinan tak berdasar yang dinamakan : iman.

Dan sesuatu yang besar pun terjadi, sesuatu yang bermakna melampaui seluruh kepakeman dimensi waktu. Sesuatu itu akan terjadi tepat tiga hari setelah pada hari ini, kita menyaksikan Tuhan sudah mati.

Posted by: thegreatsaviour | March 20, 2008

SEBUAH PERTUNJUKAN BERNAMA KEDANGKALAN

Suatu kali saya membaca salah satu karya Carl Sagan tentang jagat raya ; dalam bukunya ada beberapa foto menarik nan mencekam yang bahkan membuat saya tak mampu mencerna makna keluasan sesungguhnya yang tak terperi. Pada kesempatan lain saya membaca buku edisi khusus National Geographic tentang sel ; di dalamnya juga ada beberapa foto menarik nan mencekam yang bahkan membuat saya tak mampu mencerna makna keterincian sesungguhnya yang tak terperi. Artinya, adalah penyadaran diri bahwa saya  berada di antara makro kosmos dan mikro kosmos. Yang keduanya secara konstan berabad-abad tidaklah dapat secara tuntas terkuak.

Jadi ibarat kita mengupas helai demi helai lapisan kulit pada sebutir bawang ; kalau toh hingga pada intinya – yang kita jumpai adalah kekosongan. Kekosongan yang bukan harafiah dikenal manusia, tetapi kekosongan yang mengusung keluasan serta keterincian tak terbatas. Yang sejatinya cuma sebatas kemampuan imajinasi kemana kita membawa diri kita pergi. Maka dengan perkataan lain, kita sesungguhnya berhadapan dengan kekuasaan Tuhan yang maha dahsyat dan ajaib.

Kekuasaan yang demikian dahsyat dan ajaib ini adalah murni tanpa kekerasan. Saya yakin Anda dapat mengerti apa yang saya maksudkan, sebab kita secara naluriah cuma mengenal akrab kekuasaan yang  berjalan seiring dengan kekerasan. Tapi kekuasaanNya justeru keterbalikan ; yakni penuh kelembutan dan mampu menimbulkan rasa aman sekaligus nyaman. Itulah kekuasaan Tuhan yang kita kenal, kita pahami dan kita patut syukuri sepenuh hati.

Hanya sayangnya atas dasar ego serta identitas dan atas nama doktrin bikinan manusia ; kita kerap merasa perlu dan  latah terdorong untuk mendemontrasikannya pada khalayak, disamping buat dijadikan afirmasi pengingatan bahwa kita  adalah orang kristen. Maka kebangkitan rohani yang kini marak  diberikan bungkus lebih mirip pertunjukan manifestasi kekuasaanNya ketimbang ekspresi kasihNya dalam ibadah dengan penuh ucapan syukur dan pengagungan terhadap PribadiNya.

Sehingga kita pun pada hakekatnya bermain-main serta sekaligus mempermainkan (baca : melecehkan) kekuasaanNya untuk sesuatu yang teramat remeh yang kita perintahkan  agar Dia menyembuhkan orang lumpuh, melepaskan ikatan kutuk dan sederet masalah klasik yang lazim dihadapi manusia di muka Bumi dan banyak hal lain. Dengan tujuan bukan untuk meninggikan dan memuliakan PribadiNya melainkan demi untuk penegakan ego sekaligus identitas siapa yang lebih berkuasa. Serta mengusung doktrin usang bahwa kebenaran hanya ada di balik dinding gereja.

Maka mengacu pada karya Carl Sagan juga edisi khusus National Geographic yang mengingatkan diri saya sepenuhnya bahwa kekuasaanNya sungguh eksis melingkupi diri kita. Kekuasaan yang membangun Gosyen juga Petra bagi keseharian kita yang kian menyesakan. Kekuasaan itu memang milik kita tapi juga bukan buat seenak perut digunakan untuk pelbagai tujuan dangkal. Sebab adalah lebih santun memberikan hak manifestasi kekuasaan itu ke dalam tanganNya. Dan bukan dengan memerintah Bapa dari atas mimbar untuk memanifestasikan kekuasaanNya dengan format koridor dalam ranah pikiran kita yang amat sangat kerdil. Sungguh amat ironis sekaligus tragis jadinya, sebab hal itu tak ubahnya sebagai sebuah pertunjukan bernama kedangkalan.    
 

« Newer Posts - Older Posts »

Categories