Inilah momentum bagi kita semua untuk menyatakan kepedulian kita terhadap sesama. Ketika harga-harga terkerek tinggi dari soal bahan bakar sampai materi yang akan kita masak. Inilah momentum dimana kita tidak lagi cuma bicara soal kasih melainkan harus melakukan tindakan kasih. Momentum yang paling tepat untuk kita menyatakan identitas kekristenan kita.
Seperti juga yang kita pahami kekristenan esensinya adalah hubungan pribadi denganNya. Kekristenan bukanlah semata agama yang menjurus kepada siapa yang paling benar. Karena lama sudah kita terima bahwa kebenaran memang sungguh tidak perlu dibela. Tapi tindakan kebenaran yaitu tindakan kasih itu sendiri harus wajib dilakukan oleh siapa pun dan bagi siapa pun tanpa memandang bulu.
Kita dicekoki oleh konsep berkat dengan cream berlipat ganda dan bonus yaitu hak kita untuk mengklaim dari empat penjuru angin plus dua arah yaitu atas dan bawah. Tapi Pria dari Nazareth itu mengajarkan bahwa pemberian yang terindah adalah dari keseluruhan yang kita miliki. Itu memang dalam arti kuantitas. Tapi begitu pula dalam arti kualitas, kita wajib memberikan seluruh yang terbaik yang ada dalam diri kita. Sebab itu adalah ibadah yang sesungguhnya karena Dia ada diantara mereka yang lapar, yang kedinginan, yang dipenjara, yang didera penyakit, yang terluka dan seterusnya.
Kini mestinya mata hati kita terbuka bahwa berkat itu sesungguhnya tercurah ketika kita memberi dan bukan sebaliknya jungkir balik berdoa lalu menerima baru memberi. Berkat bukan soal metodologis yang dikemas jadi semata Berkat Abraham sampai Doa Yabez dan setumpuk tetek-bengek istilah lain yang nan membuai. Berkat adalah juga soal urusan hati kita, hati yang diterangi oleh keakraban hubungan kita dengan Dia yang penuh kejujuran.
Maka manakala hubungan kita sedemikian intim denganNya, kita boleh memiliki keyakinan bahwa tanpa sempat timbul dalam hati dan diucapkan di mulut – Dia sudah mencurahkan berkatNya. Alias tanpa diminta. Jadi momentum saat ini amatlah tepat untuk kita mengoreksi diri, bagi Anda dan saya yang lebih sibuk meminta berkatNya tapi menganggur berat buat cuma sekedar peduli terhadap sesama kita yang amat membutuhkan.
Inilah saat-saat dimana masa sulit akan segera tiba. Masalahnya adalah apa yang akan kita lakukan bagi sesama kita, jika kita sendiri sudah diselamatkan di dalam Gosyen serta Petra yang dibuatNya ? Tegakah kita mengunyah santapan sementara di luar sana mereka yang juga adalah Dia dengan dinding lambung terluka sebab berhari-hari tidak ada santapan. Ataukah kita malah menurunkan tirai jendela ketimbang membuka pintu lebar-lebar buat mengundang mereka masuk buat bersantap bersama ? Lantas jika seperti ini, kekristenan tak ubahnya cuma membentuk kita sebagai manusia-manusia egois yang kurang ajar.