Menunggu bukan pekerjaan yang menyenangkan dan bikin nyaman. Menunggu lebih memiliki makna sebagai waktu antara dari kondisi pengharapan kontra kondisi pernyataan. Jika pernyataan sama dan melebihi pengharapan, maka kita bersuka cita. Tapi jika pernyataan di bawah pengharapan dan bahkan sama sekali tidak terjadi maka kita pun bersedih hati.
Tapi kini masalahnya adalah bagaimana jika menunggu itu bukan cuma urusan sehari semalam tetapi bertahun-tahun. Kini pertanyaannya sanggupkah kita menunggu sekian lama ? Secara manusia kita kagak bakalan sanggup. Dahulu atasan saya bener-bener gawat kehidupan pribadinya. Isterinya bilang pada saya bahwa ia mendoakan suaminya yaitu atasan saya tadi selama 16 tahun dan baru bertobat. Wanita luar biasa ini bilang lagi pada saya bahwa secara manusia dia sudah tidak sanggup, tapi karena Tuhan Yesus Kristus membuatnya sanggup bertahan untuk terus menerus mendoakan selama 16 tahun.
Jika Anda mendengar kata : 16 tahun, bisa jadi tidak berarti banyak baik bagi Anda mau pun bagi diri saya. Tapi mungkin akan bermakna jika kita mengkonversikannya dalam detik, yaitu : 16 x 360 hari x 24 jam x 60 menit x 60 detik = 497.664.000 detik. Bayangkan setiap detik isteri atasan saya itu menunggu sambil diisi dengan doa. Doa yang berisikan pengharapan agar sang suami kembali berpaling pada Tuhan.
Saya termasuk orang yang tidak sabar menunggu. Jadi kalau menunggu sehari semalam rasanya setahun. Akibatnya saya teramat sulit buat memahami untuk menunggu saat dan waktu Tuhan. Ada beberapa momen yang saya ingat dalam hidup saya untuk kerap protes sama Tuhan. Urusannya sepele memang gara-gara saya tidak bisa menunggu. Ego diri saya menutupi mata hati saya buat belajar bagaimana manisnya berada dalam proses menunggu saat dan waktu Tuhan.
Finish Winarto, adik saya bilang bahwa ia amat sangat menikmati manisnya menunggu saat dan waktu Tuhan. Ia benar sebab ketika saat dan waktu Tuhan itu tiba ; orang ini bisa melompat-lompat penuh sukacita. Sementara saya bilang : katro banget seh ! Tapi disitulah inti dari segalanya bahwa bukan terpenuhi atau tidaknya harapan kita (karena Tuhan sungguh tahu mana yang terbaik buat kita), melainkan kita tahu serta sadar bahwa Dia menjawab. Jadi dijawab saja sudah bikin seneng selangit. Apalagi harapan kita dipenuhi. Maka jika Anda tidak melompat-lompat sungguh kebangetan namanya.
Maka saya pun belajar untuk menunggu saat dan waktu Tuhan. Disamping ada janji Tuhan bahwa semuanya akan indah pada waktunya, akhir segalanya akan lebih baik daripada awalnya dan seterusnya. Kita manusia memang kerap kali maunya terburu-buru dan serba instant. Tuhan kita Tuhan yang mencintai proses. Hasil sudah pasti baik bagi kita. Tapi kini masalahnya apakah proses sungguh amat baik bagi kita ? Bukankah menunggu adalah juga prosesNya untuk membentuk karakter kita, untuk belajar berharap padaNya, guna menyiapkan kita pada tahap pertumbuhan selanjutnya dan banyak hal yang tidak kita pikirkan yang Tuhan ingin kita ubah agar kita berkenan padaNya. Itulah mengapa saya mau katakan pada Anda, marilah kita menikmati manisnya menunggu saat dan waktu Tuhan.
Catatan : Tulisan diatas untuk hadiah ultah Finish Winarto
Pertama tentu saya ucapkan terima kasih untuk hadiah ulang tahun yang buat saya ini sangat special, tapi maaf saya baru baca sekarang jadi baru bisa kasih komentar.
Tentang pelajaran menunggu saya justru belajar dari apa yang pernah ko Handy katakan. Masih ingat ga, dulu waktu masih suka ngobrol di pinggir kolam ikan dari pagi sampai malam sekali waktu ko Handy pernah bilang bahwa esensi kekristenan adalah hubungan kita dengan PAPA.
Hanya itu.
Sejak saat itu saya terus belajar membangun hubungan dengan PAPA, salah satunya adalah dengan menggunakan kesempatan menunngu PAPA. Entah itu menunggu waktu Dia bekerja atau menunggu Dia menjawab, pokoknya yang berhubungan dengan menunggu PAPA akan saya manfaatkan untuk menjalin hubungan dengan Nya. Cepat atau Lambat Dia bereaksi terhadap kebutuhan saya ga ada masalah, yang penting saya bisa menjalin hubungan dengan Nya sudah cukup.
Karena terlalu cepat atau terlalu lambat kita berjalan bersama dengan Dia = kita tidak bersama lagi dengan Dia alias kita jalan sendiri. Saya sih kapok jalan sendiri tanpa pentertaan PAPA, suka nyasar sih
In His Love
Finish – Fenny – Edwin
By: Finish Winarto on May 11, 2008
at 8:37 am