Kekristenan pada saat ini sungguh diuji. Diuji untuk menunjukan jati diri dan kemaslahatannya bagi orang banyak secara lebih nyata yang bertumpu pada pengungkapan kasih Kristus dalam tindakan. Jangan lagi jadikan kekristenan cuma retorika dari atas mimbar, kekristenan mestinya tampil dan ada dalam ranah perbuatan, perbuatan yang berupa tindakan sebagaimana azas janji penyertaanNya bagi semua orang, siapa pun mereka di dunia ini.
Lebih lanjut kekristenan juga tidak dapat lagi berkutat pada sikap ambigu antara istilah Untuk Kalangan Sendiri dan jebakan syiar agama yang dangkal ; kekristenan bukanlah cuma sekedar identitas dan angka statistik jumlah umat – kekristenan adalah lebih merupakan penataan ke dalam diri masing-masing pribadi umat. Dan baru ke luar sebagai pernyataan pribadi Tuhan Yesus Kristus melalui tindakan yang kita lakukan.
Segenap tindakan demi tindakan inilah yang akan berpusat pada kosa kata aktif : menghibur, membangun, menimbulkan harapan, mengayomi, melayani dan seterusnya. Sederet hal-hal luhur yang hanya mampu dilakukan oleh manusia yang telah dibebaskan sepenuh olehNya. Bebas dari kedirian dan kedagingannya yang bukan upaya manusia di dalam melakukan setumpuk perbuatan baik, melainkan karena belas kasihanNya yang ajaib yang membenarkan dan melayakan diri kita sebagai anak-anakNya.
Dengan demikian maka soal siapa yang paling benar bukanlah hal esensial dan signifikan dalam ranah kasih. Manusia memiliki kebebasan buat memilih dan menentukan. Itu bukan urusan kekristenan yang kerap latah menukar identitas dengan iming-iming materi. Sebab Bapa memiliki rencana yang indah bagi setiap orang. Bapa memberikan kesempatan yang sama bagi setiap orang. Siapa yang duluan, siapa yang belakangan ; jelas bukan urusan kita. Sebab Bapa pernah katakan siapa yang duluan jadi belakangan, siapa yang belakangan jadi duluan dan kalau mau duluan, kita kudu melayani yang lain dan bukan membiarkan diri kita dilayani. Jadi jelas tindakan menyatakan kasihNya secara nyata amat sangat ditekankan.
Saat ini yang terjadi adalah masturbasi rohani ; kita mempreservasi kemiskinan yang ada disekitar kita dengan menyentuh permukaannya saja melalui tindakan membagi-bagi makanan siap saji, baju layak pakai, pengobatan gratis dan semacamnya. Kita tidak melakukan hal-hal yang menukik lebih dalam seperti mengajarkan keterampilan, membuka lapangan kerja dan semacamnya. Akibatnya kemiskinan tetap ada di depan mata, maka masturbasi rohani tetap berlangsung terus menerus. Sehingga kita kerap kali akan menjadi terharu dan memuji namaNya ketika acara bagi-bagi makan siang gratis dilakukan rutin, sementara akar masalah tidak pernah tersentuh buat ditangani.
Itulah mengapa suatu perubahan konsep khususnya dalam pelayanan mesti dirombak dan diruntuhkan ; makna pelayanan harus dikembalikan pada akar sejatinya. Dan untuk mengetesnya adalah apakah kita akan tetap melayani seseorang sama baiknya kendati orang itu tidak mau menjadi kristen ? Jika Anda bisa dan mampu menjawab bahwa Anda tetap melayaninya sebagaimana seharusnya, maka itu artinya Anda telah memiliki suatu konsep tentang pelayanan yang sejati yang sebenarnya bukanlah sebuah konsep baru, bahkan sudah dilakukan dua puluh abad lalu oleh seorang Pria dari Nazareth yang mati hina di atas salib dan bangkit setelah tiga hari dalam kubur dan naik ke Surga.